Trump Klaim Akan Kuasai Selat Hormuz Bersama Pemimpin Iran Berikutnya
Duniaberita.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan rencananya untuk mengendalikan Selat Hormuz bersama pemimpin Iran berikutnya. Pernyataan ini memunculkan indikasi bahwa AS bersama Israel berpotensi kembali mendorong perubahan rezim di Iran.
Hal tersebut disampaikan Trump pada Senin (23/3/2026) di Florida, saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai masa depan Selat Hormuz. Ia mengungkapkan bahwa saat ini Amerika Serikat tengah melakukan pembicaraan dengan pihak Iran terkait pengendalian wilayah strategis tersebut di masa mendatang.
Menurut Trump, Selat Hormuz akan segera dibuka dan kemungkinan besar berada di bawah kendali bersama. Ia bahkan menyebut keterlibatan dirinya dan pihak kepemimpinan Iran ke depan.
"Itu akan segera dibuka dan dikendalikan bersama. Bisa saja oleh saya, Amerika Serikat, bersama Ayatollah, siapa pun yang menjabat saat ini maupun nanti," ujarnya.
Lebih lanjut, Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak di Iran, namun bukan dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Ia menolak mengungkap identitas pihak tersebut dengan alasan keamanan.
"Saya tidak ingin dia dibunuh," katanya.
Trump juga menyebut Iran akan menghadapi perubahan besar dalam kepemimpinannya. Ia mengisyaratkan adanya perubahan rezim yang signifikan, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
"Perubahan rezim yang sangat serius akan terjadi. Saat ini hampir semua orang dari rezim tersebut telah terbunuh, sehingga perubahan itu akan berlangsung secara otomatis," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sosok yang tengah diajak berunding merupakan figur yang dihormati oleh rakyat Iran dan berpotensi menjadi pemimpin berikutnya.
Selain itu, Trump mengatakan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran telah dimulai sejak akhir pekan lalu dan terus berlanjut hingga hari Minggu. Ia mengklaim kedua pihak sama-sama memiliki keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan.
"Kita mungkin akan melanjutkan pertemuan melalui telepon hari ini karena sulit mencari negara ketiga sebagai tempat pertemuan. Namun, kita akan segera bertemu dan mengadakan pembahasan selama lima hari," jelasnya.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya perundingan dengan Amerika Serikat terkait hal tersebut.

Posting Komentar